Level penindasan perempuan berbeda-beda, dipengaruhi oleh derajat persinggungan beragam penindasan dan eksploitasi, serupa tapi tak sama.
Soekarno pernah mengatakan bahwa “Soal perempuan bukanlah soal buat kaum perempuan saja, tetapi soal masyarakat. Dan sungguh, itu adalah salah satu soal masyarakat dan negara yang amat penting”.
Puisi ini ditulis oleh Arisaputra S. Batangale. Salah satu aktivis social yang memiliki kepedulian terhadap perempuan…
PEREMPUAN YANG TERTINDAS
“Karya Arisaputra”
Perjalanan sepi dalam kesunyian sendiri
Menghanyutkan sebuah rasa yang menyelimuti kontradiksi
Imajinasi menghantarkan ku untuk melawan
Namun itu semua hanyalah angan-angan
Malam yang sunyi dalam kesepian
Terdengar hanyalah rintihan suara hati
Suara hati yang tak tahu tempat untuk mengadu
Aku adalah korban dari rasio patriarki yang mengobjektifikasiku layaknya komoditi
Kehormatanku sudah tak lagi di hormati di takar sesuai kehendak birahi
Aku mereka dan lainnya selalu di lecehakan
Di mana dan kemana harus ku adukan suara hatiku?
Aku terus berjalan membawa rasa yang tertindas ini
Negara seakan tidak melindungiku lagi
Aku akan mendorong kaum perempuan untuk rapatkan barisan
Dan siapkan untuk melawan
Kalian para kaum kaum bajingan
Yang sudah tak lagi berperikemanusian
Perilaku kalian seprti aroma bau binatang yang mati mengerikan
Yang Tak pantas kalian untuk hidup berdampingan
Aku tak lebih dari liang senggama
Eksistensiku sudah sejak lama terkikis
Yang tak lagi bermakna
Jauh sudah ku seret langkahku
Banyak sudah rumah yang telah ku ketuk
Darah di tanganku telah kering
Tak ada satupun pintu yang terbuka
Langkah kakiku kembali ku seret
Perjalanan malam ini harus menemukan tujuannya
Aliran imajinasi perlawanan yang terus mengalir deras harus bertemu muaranya.
_Oleh Arisaputra_
