Senin, 21 Desember 2020

 

Level penindasan perempuan berbeda-beda, dipengaruhi oleh derajat persinggungan beragam penindasan dan eksploitasi, serupa tapi tak sama.

Soekarno pernah mengatakan bahwa “Soal perempuan bukanlah soal buat kaum perempuan saja, tetapi soal masyarakat. Dan sungguh, itu adalah salah satu soal masyarakat dan negara yang amat penting”.

Puisi ini ditulis oleh Arisaputra S. Batangale. Salah satu aktivis social yang memiliki kepedulian terhadap perempuan…

PEREMPUAN YANG TERTINDAS

“Karya Arisaputra”

 

Perjalanan sepi dalam kesunyian sendiri

Menghanyutkan sebuah rasa yang menyelimuti kontradiksi

Imajinasi menghantarkan ku untuk melawan

Namun itu semua hanyalah angan-angan

 

Malam yang sunyi dalam kesepian

 Terdengar hanyalah rintihan suara hati

Suara hati yang tak tahu tempat untuk mengadu

 

Aku adalah korban dari rasio patriarki yang mengobjektifikasiku layaknya komoditi

Kehormatanku sudah tak lagi di hormati di takar sesuai kehendak birahi

Aku mereka dan lainnya selalu di lecehakan

 

Di mana dan kemana harus ku adukan suara hatiku?

 

Aku terus berjalan membawa rasa yang tertindas ini

Negara seakan tidak melindungiku lagi

Aku akan mendorong kaum perempuan untuk rapatkan barisan

Dan siapkan untuk melawan

 

Kalian para kaum kaum bajingan

Yang sudah tak lagi berperikemanusian

Perilaku kalian seprti aroma bau binatang yang mati mengerikan

Yang Tak pantas kalian untuk hidup berdampingan

 

Aku tak lebih dari liang senggama

Eksistensiku sudah sejak lama terkikis

Yang tak lagi bermakna

 

Jauh sudah ku seret langkahku

Banyak sudah rumah yang telah ku ketuk

Darah di tanganku telah kering

Tak ada satupun pintu yang terbuka

 

Langkah kakiku kembali ku seret

Perjalanan malam ini harus menemukan tujuannya

Aliran imajinasi perlawanan yang terus mengalir deras harus bertemu muaranya.

 

_Oleh Arisaputra_

 

 

 


  Level penindasan perempuan berbeda-beda, dipengaruhi oleh derajat persinggungan beragam penindasan dan eksploitasi, serupa tapi tak sama...